TBS atau sistem bubu perangkap adalah
teknik pengendalian
tikus yang mampu menangkap
banyak
tikus sawah
terus menerus selama musim tanam (sejak tanam hingga panen).
TBS dianjurkan untuk digunakan pada daerah endemik
tikus yaitu wilayah
yang populasi tikusnya selalu
tinggi sehingga terjadi
serangan tikus pada setiap musim tanam.
JENIS-JENIS TBS
1.
TBS Tanam Awal
TBS tanam awal terdiri :
1)
Tanaman perangkap untuk menarik kedatangan tikus
2)
Pagar plastik untuk mengarahkan tikus masuk perangkap
3)
Bubu perangkap untuk menangkap & menampung
tikus
Ketiga komponen tersebut merupakan satu unit terpadu yang tidak
dapat dipisahkan dalam
penggunaannya di lapangan. Tanaman perangkap
TBS
tanam awal ditanam 3 minggu lebih
awal daripada tanaman padi di sekelilingnya.
Tanaman Perangkap
Saat tanaman perangkap
ditanam,
lahan
di
sekelilingnya
masih
olah tanah &
pesemaian, sehingga
tanaman padi TBS akan lebih dahulu memasuki stadia generatif. Perbedaan umur tanaman tersebut mampu
menarik tikus dari sekitarnya untuk mendatangi petak TBS.
Petak
tanaman perangkap
minimal
berukuran
25m
x 25m agar mampu berfungsi optimal menarik
kedatangan tikus
dari habitat dan
lingkungan
di sekitarnya hingga 200m dari petak TBS. Penempatan petak tanaman perangkap adalah di dekat habitat utama
tikus sawah, seperti perbatasan dengan kampung, tanggul irigasi, tanggul
jalan, atau
petak sawah
yang
sering diserang
tikus sawah.
Pagar
Plastik
Pagar dapat berbahan
plastik PE bening (0,8mm), mulsa, atau terpal (semua
warna dapat dipakai), setinggi 60-70cm mengelilingi tanaman
perangkap. Pagar plastik ditopang ajir bambu yang
dipancangkan setiap 1m dan ujung
bawahnya selalu
terendam air dalam parit (selebar ± 50cm). Usahakan parit selalu terisi air agar tikus
tidak melubangi pagar, serta
jangan
ditanami atau terdapat gulma
yang dapat digunakan
tikus untuk memanjat
masuk TBS.
Bubu Perangkap
Bubu perangkap dibuat dari ram kawat, berbentuk kotak berukuran 40cm x 20cm x 20cm, dilengkapi corong masuk (di depan), dan pintu (belakang) untuk mengeluarkan
tikus. Bubu perangkap dipasang pada setiap sisi pagar dengan jarak 20m
antar perangkap dan
corong
bubu menghadap keluar.
2. TBS Persemaian
Pesemaian dapat difungsikan
sebagai petak TBS dengan
cara pemasangan
pagar plastik keliling dan
bubu perangkap.
Setelah cabut bibit, eks-pesemaian ditanami padi umur genjah, agar memasuki stadia generatif lebih dahulu. Kombinasi cara tersebut terbukti efektif
menarik
kedatangan tikus setara dengan
TBS
tanam awal.
3.
TBS Tanam Akhir
Komponen TBS tanam akhir sama
seperti TBS
tanam awal, namun tanaman perangkap ditanam 3
minggu lebih lambat dari pertanaman di sekitarnya. Ketika padi petani sudah
dipanen, petak TBS merupakan satu-satunya pertanaman
yang masih
tersisa,
sehingga akan “diserbu” tikus dari segala
arah.
Tikus yang tertangkap
di akhir
pertanaman
akan menekan populasi tikus pada musim tanam
berikutnya.
4.
TBS Perlindungan Penuh
TBS perlindungan penuh terdiri atas pagar
plastik dan bubu perangkap, tanpa memerlukan tanaman perangkap yang ditanam lebih awal atau lebih akhir.
Pemagaran tanaman padi dilakukan dalam skala
hamparan
& dipasang bubu perangkap
setiap 20m.
PEMASANGAN TBS
1. Buat parit selebar ±50cm mengelilingi calon petak TBS
2. Pancangkan ajir bambu tiap 1m di parit, pasang
tali antar ajir, pasang plastik pada tali dengan
lidi.
3. Apabila menggunakan terpal, pasang ajir bambu pada
terpal, bentangkan, tarik kuat-kuat, dan
pancangkan ajir di parit dekat pematang dalam
4. Pasang bubu perangkap, pastikan menempel pagar plastik sehingga
tikus tidak bisa menerobos.
5. Buat gundukan tanah di depan corong bubu agar tikus mudah menemukan
pintu masuk.
PEMELIHARAAN
TBS
1.
Periksa TBS setiap pagi, bunuh tikus tangkapan dengan
merendam dalam air bersama
bubu perangkap.
2.
Periksa pagar plastik, apabila berlubang segera
lakukan
perbaikan/penambalan.
3.
Pastikan parit terisi air sehingga tikus tidak bisa menerobos masuk tanaman perangkap.
4.
Bersihkan gulma di parit TBS karena tikus mampu memanjatnya untuk jalan masuk ke dalam petak tanaman perangkap TBS.
Sumber
: Dr. Agus W, BBPTPadi, 2015
Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian




